Tidak Ada Testimoni Sebelum Mahar


“Berpura-pura sungguhlah lelah. Seperti manusia bertopeng. Aku munafik. Berbohong pada semua orang, juga membohongi diri sendiri. Ingin menyerah saja, hidup tak ada artinya lagi.”

Begitu kalimat yang masih aku dengar hingga kini. Mbak Sean teman satu mess selama enam bulan terakhir.

Aku selalu menjadi pendengar yang baik bagi siapa pun itu. Namun, kalimat Mbak Sean malam itu buntu, Mbak Sean tak melanjutkan ceritanya, hanya berakhir dengan kata lelah dan menyerah. Lalu berbaring dan tidur di kasur sebelah.

Akhir-akhir ini kulihat Mbak Sean seolah kehilangan harapan, sering kali melamun, bahkan tak jarang ia menangis tersedu-sedu seusai shalat Isya di mess. Apa yang membuatnya menangis? Aku tidak tahu.

Keesokan hari tepat di jam yang sama pukul 20.00 WIB kami memutuskan untuk mencari makan di luar, menikmati indahnya kota hujan.

Setibanya di salah satu resto yang tak begitu jauh dari mess, Kami memilih duduk dilantai atas yang disambut pemandangan indahnya kota hujan di malam hari dengan gemerlap lampu yang menggoda mata.

“Apa kamu tidak malu punya teman seperti aku?”

Pertanyaan yang membuatku bingung sendiri.

“Kenapa meski malu, aku sungguh beruntung memiliki teman sekaligus seorang kakak di perantauan,” jawabku dengan menuai senyum.

“Aku tidak sebaik yang kamu pikir, aku kotor, tak pantas rasanya berteman denganmu, gadis polos yang terlalu baik untuk menjadi temanku”

Bingung. Bila saja Mbak Sean berbicara tanpa berkaca-kaca mungkin aku akan tertawa menganggap ini lelucon, tapi wajahnya nanar seperti membendung kesedihan.

“Mbak Sean kenapa? Ada masalah?”

“Aku ini kotor, sudah tak suci lagi, aku telah melakukannya bukan hanya sekali”

“Melakukan apa?” Aku masih belum mengerti apa yang di maksud Mbak Sean.

“Pacarku memutuskan aku”

Masih bingung dengan apa yang dikatakan Mbak Sean, di tanya kenapa jawabnya lain, belum juga aku bertanya, Mbak Sean melanjutkan bicaranya.

“Aku menyesal sekali, kenapa terbuai oleh kata manisnya, kenapa dengan mudah percaya dengan buaiannya. Awalnya aku menolak, namun dia merajuk dan merayuku, dia bilang, dia akan menikahiku, jadi tak perlu khawatir. Kerana di lakukan sekarang ataupun nanti sama saja akan dilakukan dengan dia. Dia meyakinkanku jika semua akan baik-baik saja. Aku bingung, gamang, entah dengan cara apa menolaknya. Aku memang nyaman di sampingnya, hatiku tentram dalam peluknya, hingga setan berhasil mengkomporiku. Adegan selanjutnya aku tersadar dalam tangis tanpa sehelai kainpun yang menempel di tubuhku. Aku menangis ketakutan, lalu dia memelukku erat, mencium keningku dan berusaha meyakinkan jika semua baik-baik saja. Toh kami akan menikah dua tahun lagi.”

Dua tahun lagi?

“Mbak melakukan hubungan suami istri begitu?” Pertanyaanku mungkin terdengar begitu tak sopan dan menyebalkan dengan wajah super duper datar. Namun, waktu itu aku akui masih begitu tabu dan polos mendengar hal demikian. Mbak Sean mengangguk dan menitikan air mata sendunya.

“Ternyata memang benar, seperti merokok, sekali di coba maka akan ketagihan untuk melakukan kedua kalinya hingga berkali-kali dan sulit berhenti. Sekali merasakan indahnya kissing maka tak ragu menyambung kenikmatan selanjutnya. Pun sama halnya, menikmati dosa yang aku bilang indah. Kami melakukan untuk yang kedua kalinya. Tak ada tangis yang mengakhiri adegan, tak ada sesal untuk kedua kalinya. Jika pada awalnya aku merasa takut, menangis, merasa bersalah. Tidak untuk yang kedua kalinya, aku menikmati semua perzinahan itu”

Tangis Mbak Sean pecah, dia terseguk-seguk di depanku, untunglah tak terlalu banyak orang yang makan di sekitar kami. Hingga pelayan resto datang dan menyajikan makanan yang kami pesan.

“Mbak Sean makan dulu yah, dari kemarin aku perhatikan Mbak tidak makan,” ucapku melerai tangis yang menjadi pemandangan pertama di hadapanku sejak duduk di bangku nomor 32 itu.

Sekitar pukul 21.00 WIB kami keluar dari resto. Mbak Sean memintaku untuk menemaninya sekadar berjalan dan menikmati dinginnya kota Bogor.

Langkah demi langkah kecil kami menghiasi jalanan yang di penuhi krikil-krikil aspal. Sesekali Mbak Sean mengambil batu-batu kecil yang terinjak dan melemparkannya tanpa tenaga. Aku menarik kedua halis hampir bertemu, heran dengan apa yang Mbak Sean lakukan. Beginikah yang di lakukan orang-orang yang sedang dalam masalah? Berjalan menikmati dinginnya malam, entah kemana kaki melangkah, melempar-lempar batu. Ah ... sungguh aku bingung entah bagaimana memulai percakapan dengan Mbak Sean saat itu.

Aku menarik napas hendak memulai kata, Mbak Sean telah mendahuluiku.

“Setelah kamu tahu aku ini tidak baik, apa kamu menyesal berteman denganku?”

Aku menggeleng dan tersenyum lalu menunduk.

“Sama sekali tidak Mbak, bukankah semua orang punya masa lalu. Tidak ada manusia yang sempurna tanpa dosa.”

“Tapi ini beda, ini salahku yang begitu bodoh, termakan bujuk rayu dan merelakan kehormatanku untuk dia yang bukan suamiku”

“Eeuuu ... kalau boleh aku bertanya, kenapa Mbak putus dengan pacar Mbak itu?” Semoga pertanyaanku tak salah.

“Dia akan menikah dengan wanita pilihan Ibunya. Dia bilang wanita pilihan Ibunya sangatlah baik, dia anggun. Tidak murah sepertiku yang dengan mudah merelakan kesuciannya”

“Loh bagaimana sih pacar Mbak ini? Bukankah dia yang meminta Mbak melakukan itu? Kenapa dia bilang seperti itu? Kenapa dia bilang Mbak murah? Bukankah dia yang merajuk? Kenapa dia seperti itu Mbak?” Tentu saja aku jadi emosi mendengarnya, walau aku anak kemarin sore yang baru lulus SMA tapi perlahan aku mengerti alur cerita Mbak Sean.

Mbak Sean terlihat menarik panjang napasnya dan membuangnya perlahan.

“Seburuk-buruknya laki-laki, dia akan memilih wanita yang baik untuk di jadikan istri dan ibu dari anak-anaknya kelak”

Mbak Sean tersenyum terpaksa dan kembali menunduk, melanjutkan bicaranya.

“Aku kotor. Jika aku bisa bernegosiasi dengan Tuhan, aku ingin agar Dia tak menolongku dari maut. Aku telah sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan menggoreskan pisau tajam tepat di persendian lenganku. Namun, sialnya Ibu datang dan segera membawaku ke rumah sakit”

“Ibu Mbak tahu?” Tanyaku penasaran.

Mbak Sean menggeleng.

“Tidak, Ibu tidak pernah tahu. Aku tak bisa bayangkan bagaimana jika beliau tahu. Pastilah dia akan sangat kecewa. Aku sudah siap jika Ibu akan membenciku, jika Ibu akan mengusirku. Tapi aku tidak kuat jika harus melihat ibu jatuh sakit karenaku. Untuk itu aku sembunyikan semuanya dari Ibu. Memutuskan pergi sejauh mungkin dari kampung halaman lalu merantau kesini. Dan bertemu kamu,” kali ini Mbak Sean mengakhiri kalimatnya dengan senyuman dan menatapku.

“Mbak Sean tidak berusaha mendatangi laki-laki itu dan meminta pertanggung jawaban?”

“Aku sempat melakukannya. Namun, dengan tega dia malah mencaciku, bilang aku tak suci lagi ...”

“Kan dia yang buat Mbak Sean merelakan kesucian Mbak,” saking emosi aku memotong percakapan Mbak Sean.

“Aku telah jelaskan. Meminta belas kasihan padanya agar tidak meninggalkan, aku katakan bagaimana nasibku nanti, kamu yang pertama telah melakukannya padaku, lalu dengan mudah dan entengnya dia bilang kita melakukannya atas kesepakatan bukan atas paksaan, atas dasar saling suka. Dia terus tak mau disalahkan, kami bersitegang. Setelah selesai meluapkan kemarahanku. Dia memberikan sebuah lipatan kertas yang ternyata itu adalah undangan pernikahan. Tertulis jelas namanya dengan wanita lain sebagai kedua mempelai.

"Hati ini hancur, sangat hancur, dunia seolah berubah menjadi gelap, aku kehilangan harapan. Langit-langit mendung seketika seiring jatuhnya air mata kepedihan saat itu. Aku menangis berlutut di kakinya. Dia tak peduli, dia melangkah dan berkata, aku ingin wanita yang baik, wanita yang bersih, wanita yang mampu mempertahankan kehormatannya sebelum halal, dan aku telah menemukannya. Tidak seperti kamu yang gampangan.

"Setelah itu dia meninggalkanku menunggangi kuda besinya. Aku masih tertatih saat itu. Aku hancur .... begitu mudah dia mencampakan setelah dia ambil semua milikku”

Aku diam meresapi segala yang dikatakan Mbak Sean, tanpa terasa setitik air jernih turun di pelupuk mata. Aku menangis.

“Jika Mbak mau bertobat pasti Allah akan senantiasa merangkul Mbak”

“Kamu sungguh gadis baik, tak jiji berteman denganku. Malu rasanya”

“Kita bukan Tuhan yang berhak menghakimi. Di balik semua pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Biarkan masa lalu Mbak menjadi pelajaran untuk hari besok. Tugas kita sekarang adalah memperbaiki diri dan mendekat pada-Nya,” entah dapat ilham dari mana aku bisa bicara layaknya orang dewasa nan bijak.

Ternyata tanpa sadar kaki kami melangkah menuju mess. Dan setibanya di mess, kami bersiap-siap membersihkan diri untuk selanjutnya istirahat.

*****

Bagaimana cerita pendek tadi? Seburuk-buruknya seorang laki-laki pastilah dia mencari wanita yang baik untuk ia imami. Sebaik-baiknya perempuan dialah yang mampu mempertahankan kesuciannya hingga ia berikan pada yang telah menghalalkannya.

Kelemahan laki-laki memang mudah mengumbar janji dan lemahnya perempuan begitu mudah percaya.

Nah girls, sayangi diri kita yuk! Sayangi juga jodoh kita nanti, beri jodoh kita hadiah yang begitu indah yang tidak pernah kita berikan pada lelaki sebelumnya. Jangan menjadi murah dengan hanya di imbali kata manis dan janji saja. Tidak ada bukti nyata akan cinta selain pernikahan. Jangan mudah percaya 1000% bila belum ijab dan qabul. Pernikahan bukan serupa produk kecantikan yang di jual online shop yang harus di beri testimoni di awal sebelum mahar.

Untuk abang-abang, sama-sama saling menjaga yuk. Mencintai boleh, tapi tidak dengan merusak. Bisa saja seseorang yang bersama kita sekarang bukan jodoh kita, mungkin saja jodoh kita disana sedang dengan yang lain. Mencintai, dijaga, jangan di rusak.

Semoga kita semua selalu dalam pengawasan dan penjagaan-Nya. Bukankah wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya? Dan, bukankah yang menjaga akan mendapat yang terjaga?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagi...

LAPTOP IDAMAN SOBAT TRAVELERS

AYAM BAKAR ABANG MONO