Just! Comfort Zone (bukan stereotip)
Aku mengenalmu bukan untuk hari ini besok
ataupun lusa.
Kemarin tidak terlalu singkat untuk
mengenal dirimu, untuk tau siapa kamu, bagaimana kamu. Walau aku tidak tau
makanan apa yang kamu sukai, film apa yang kamu senangi, tempat yang sering kamu
kunjungi. Aku tidak tau semua itu, hanya yang ku mengerti aku mengenalmu,
mengenal lebih dari sekedar yang nyata, mungkin aku mengenal hatimu sebelum
yang lain menghuninya.
Aku ada sebelum daftar nama wanita
yang menjadi singgahmu ada, aku cinta sebelum yang lain menawarkan cinta, aku
bahagia sebelum yang lain menyusul tertawa, aku tersipu sebelum yang lain
terlena, aku kecewa sebelum yang lain terluka, aku menangis sebelum yang lain
membenci.
Selalu berusaha tenang meski ada di
tengah badai sekalipun, itulah yang ingin aku pertahankan. Tetap damai walau
kamu merampas kedamaianku, tetap tersenyum sekalipun kamu telah membawa tawaku,
tetap berprinsip jika yang terjadi bukan oleh sebuah kesalahan, melainkan satu
titik dalam garis yang harus dilewati untuk menemui ujung. Untuk itulah jika
kamu ada aku tak berpaling muka, karena aku tau waktu yang akan membawamu.
Aku tau kamu cinta, aku tau kamu suka,
aku tau kamu menginginkan, karena aku pun sama sepertimu. Entah siapa yang
lebih dulu.
Apa kita tidak pernah bertemu di satu
persimpangan? kenapa selalu tidak ketemu, yang satu tengah menunggu, hingga
lelah dan melangkah, setelah lalu, baru yang di tunggu tiba, namun sudah tiada.
Kamu, kamu yang ku mau, begitupun
kamu, aku yang kamu mau. Benarkah?
Cinta, apa cinta akan pertemukan kita
disatu titik yang sama hingga ketemu dan menyatu? Ku harap tidak. Kamu.... aku
memang mencintaimu, namun tidak menginginkan sebuah persatuan.
Mungkin telah lelah hingga aku
melangkah dan menyerah, aku lelah mencari titik temu itu, aku memilih jalan
lain untuk sampai ke ujung. Temui ujungmu! Tidak usah lintas lagi dalam garisku.
Bukan karena aku mengalah pada cinta,
bukan pula karena cinta dan rasa telah tiada. Semua masih sama, masih utuh, belum ku bagi, masih untukmu
semua itu. Namun aku katakan jika aku mengenalmu, bukan untuk hari ini, besok
ataupun lusa. Aku mengenalmu kemarin, kemarin yang menyebalkan, kemarin yang
membuatku terluka, kemarin yang membuatku cemburu, kemarin yang membuatku
rindu, kemarin yang membuat lidahku berucap aku mencintaimu. Iya’ itu kemarin,
kemarin yang dengan segala kekonyolan namun tetap ku rindu, tetap ku tunggu.
Kamu sekarang telah pergi, tidak...
ku rasa kamu tidak pergi, namun aku yang pergi, atau kamu pergi sebelum aku
meninggalkan, atau aku yang pergi sebelum kamu berlari mendahului. Seperti cinta,
entah siapa yang pergi duluan.
Selepas kamu pergi atau aku yang
meninggalkan, semua baik-baik saja bahkan akan lebih baik jika kamu tidak
sesekali muncul dan menanyakan kabarku, aku akan jauh lebih baik.
Entah aku ini korban kapitalis atau
apapun, aku tidak di tumbuhkan di lingkungan yang mencekoki akan hal demikian,
namun, kini dunia kita memang beda, sangat berbeda bahkan sesekali aku
membenci, tidak, bukan membenci dalam artian sebenarnya.
Stereotip yang kini kian
mendebar-debarkan urat nadiku, seakan memudarkan kasih yang ku yakini, mungkin
seharusnya tidak, karena kasih ini belum tentu nyata. Aku tidak mengerti bagaimana mungkin stigma
itu kian menghantuiku.
Ketika kamu kembali, tentu aku
menyambut, menyambut dengan segala kelegaanku karena yang ku mau menuju padaku,
aku dibuatmu tersenyum, tersipu, tertawa, aku dibuatmu kembali dibuai asmara. Dan
aku suka itu. Namun kini di bumbui ragu, ragu yang mungkin tak kan pernah ku
dengar jawabannya, karena aku tidak berani bertanya pada kamu yang bukan
siapa-siapa.
Keraguan yang semula hanya berupa
kicauan sekelilingku yang ku kira tidak punyai pengaruh, berhasil membuat
bimbang, membuatku bertanya, apa benar jika kamu tidak untukku? Apa benar jika
kita tidak bisa menyatu? Apa benar profesi mu akan membuatku terluka, bukan
terluka oleh kebodohan kita, tapi terluka lebih dari itu, lebih dari yang ku
bayangkan.
Tidak, bukan keluarga, bukan pula
sahabat, ataupun mereka yang dekat dan tau tentangku, mereka tidak pernah
menerapkan stigma itu padaku. Hanya saja orang yang ku kenal walau sekilas
namun banyak, sekilas namun berkali-kali, orang yang berbeda namun dengan
pemahaman yang sama, jika terus ku dengar, ternyata mampu membuatku bimbang dan
bertanya, benarkah demikian?.
Walau sesekali aku dilema, dilema
dengan cinta dan perbedaan, aku tetap berharap jika kelak kita menyatu, walau
sekarang masih berjalan sendiri-sendiri, aku yang sendiri dan kamu tidak.
semoga tak di hantui stigma demikian.
Tinggalkan semua keraguan itu, karena
kini kamu telah kembali, kembali pergi menghilang. Mungkin tanpa ku duga, suatu
hari nanti kamu akan kembali tanpa ku minta.
*****
Tinggalkan semua stereotip ataupun
stigma yang membuat rasaku seperti tak mempunyai ketetapan. Aku mengenal
mereka, mereka yang serupa dengan kamu, diantara mereka telah membuatku
terpikat, terpikat dengan caranya berbicara, terpikat dengan kesantunannya
terhadap wanita. Tidak butuh waktu lama untuk saling berbagi cerita, aku
katakan jika pikiranku selalu di kotori dengan paradigma bla bla bla bla...
tentang kalian atau yang serupa dengan kalian, dia berkata “aku akan merubah
paradigma yang ada dihatimu, aku akan tunjukan jika tidak semua seperti itu”, aku mengangguk tersenyum menyambut
pertemanan dengan hal yang ku mulai penuh keraguan.
Selang hari, satu bulan berlalu,
dan.. bukan hanya sekedar merubah pemahamanku yang salah tentang mereka, namun
lebih jelasnya mengiyakan segala pemahamanku tentang mereka, tentang semua yang
menjadi stigma beberapa waktu terakhir ini, seolah di iyakan oleh objek itu
sendiri. Aku tersenyum, hanya tersenyum, dalam hatiku berkata “cukup tau”.
Mungkin benar yang di kicaukan
sekitar jika serupa mereka tidak bisa setia, oh tidak... bukan hanya mereka,
semua orang punyai kecenderungan tidak
setia atau kecenderungan untuk mendua, tapi setia adalah bagaimana cara
mengendalikan rasa/ketertarikan pada yang bukan pasangannya. Seperti yang di
tuliskan oleh BJ, Habibie.
“Semua orang adalah tukang serong yang ulung, namun ada yang menanganinya
dengan baik atau tidak. Maka dari itu muncullah istilah pasangan setia, awalnya
ku pikir setia dalah tidak pernah tertarik pada orang lain selain pasanganku.
Tapi setia adalah saat kita tertarik pada orang lain, lalu pikiran alam sadar
kita ingat bahwa pasangan kita lebih baik dari siapapun, tidak ada yang lebih
baik darinya”.
Apa kalian pikir aku diduakan,
sungguh tidak, aku tidak diduakan, dan dengan penuh kesungguhan aku minta pada
Tuhan agar tidak pernah di duakan selain dengan-Nya, dalam ketaatan pada-Nya
saja hingga syurga dan abadi. Bukan, bukan aku yang di khianati oleh ‘setia’ bukan
pula ibu, atau sahabatku. Tapi yang disana, perempuan itu yang sama sekali tidak
ku kenali. Aku iba, kasihan pada wajah luguhnya yang berpikir jika pasangannya
setia dengan memasang foto profil mereka di sosial media. Tuhan harus seperti
inikah? Di bodohi oleh tindakan yang di penuhi kebohongan, aku bisa rasakan
bagaimana sakitnya wanita itu jika tau pasangannya bercinta dengan selain
dirinya.
Dengan lantang mengajakku kencang,
walau telah jelas ada wanita di fotonya yang tersenyum penuh cinta dan
kepercayaan. Bukan hanya satu, tidak hanya satu, apa yang membuat mereka
seberani itu? Mungkinkah karena yang mereka kenakan dan mereka banggakan, lalu
berpikir siapapun wanita akan tertarik dan jatuh dalam peluknya. Tuhan sungguh
aku menyesal mengetahui ini semua, bukan menyesal mengenal mereka ataupun dia,
karena pada dasarnya aku senang mengenal dan berteman dengan siapapun, namun
aku menyesal harus tau semua yang membuatku ragu pada cinta yang telah ku pupuk
dalam setiap lembar do’aku.
*****
“Memang, tapi tidak semua” kalimat
itulah yang menjadi tamengku, namun jika setiap hari burung di pohon itu
berbisik padaku tentang stigma-stigma yang seolah ingin mereka tanamkan dalam
diriku, aku goyah. Memberanikan diri bercerita tentang keraguanku, seharuskan
pada Tuhan, tapi sebelumnya kulakukan pada Objek serupa namun ku kira ia telah
merasakan asam pahit dunianya, bukan kaula muda yang memang sulit untuk bertahan
pada satu komitmen yang mereka buat sendiri, aku paham itu, aku bela keraguanku
dengan kalimat “semua orang punya fase/masa’nya, orang muda memang sulit
berpegang pada satu pilihan, mereka bahkan aku, kami masih labil dalam
bertindak”
Aku bercerita seolah ia adalah guru
kesiswaan sewaktu sekolah dulu, dan apa yang ku dengar? Lagi dan lagi mereka
seolah meyakinkan jika paradigma yang selama ini menghantuiku adalah benar
adanya, aku diam, hanya terdiam. Sebetulnya jika saat itu kamarku ada di
depanku mungkin telah ku banting pintu, menguncinya dan menenggelamkan wajahku
pada bantal yang dengan senang hati akan meredam tangisku. Lalu kuteriakan,
haruskah pengabdian di bumbui pengkhianatan pada yang mendukung dan mendo’akan.
Sudah cukup! Aku tidak akan cerita
apapun lagi, pada siapapun itu, toh ini hanya dunia khayalku yang berangan
tentang ketidak mungkinan, dan dalam fase kegilaanku aku mencari semua sumber
yang bisa ku dapati tentang apapun itu asal menyangkut tentang kamu sekarang.
*****
Damn! Bukan dari mereka stigma ini
berkembang, tapi dari kamu sendiri. Kamu yang membawa kembali bunga-bunga itu,
menanamnya dan merekahkannya di hatiku yang sempat meredup, hingga kembali
berujar, aku mencintaimu. Untunglah belum sempat ku katakan padamu, namun masih
ku simpan dalam hati hingga raguku hilang. Lalu dalam usaha meyakinkanku untuk
percaya padamu kembali, dengan sangat mudah setelah kamu buat aku terjatuh
dalam cintamu, kamu pergi dengan dia, yang memang pantas untukmu dia yang
memang bisa menyatu dengan duniamu bukan aku yang terlalu naif mengakui kharismamu.
Aku dan kamu memang berbeda, ini
bukan tentang stereotip, stigma atau paradigma, bukan juga kicauan
burung-burung yang menyambutku setiap pagi di depan jendela ruang kerjaku, bukan
pula tentang mereka yang serupa denganmu, tapi ini tentang rasa. Yang ku tau
cinta tak akan mungkin kalah, dan karena aku kalah itu berarti sesungguhnya aku
tak cinta. Bukan karena kamu yang sekarang, bukan juga kamu yang dulu, tapi rasa
bisa pudar jika terus terkikis terlebih jika rasa hanya kamu anggap sebuah
candaan yang bisa kamu tinggalkan kapanpun kamu merasa bosan, rasa disini bukan
rasa cinta yang sesungguhnya. Karena cintaku, aku yakini seperti tarsius, namun
bukan padamu.
Beruntungnya. Syukurku, Tuhan sempat
mempertemukan, mengenalkan lalu mendekatkan, dan mengizinkanku mengenal rasa
melalui kamu, namun tidak untuk menyatukan. Menghindarkanku dari kecewa
yang sesungguhnya, kecewa lebih dari sekedar segala kekecewaan yang selalu ku
bisikan pada-Nya, yang ternyata tidak ada bandingannya dengan Ibu dua orang
anak itu, tentang kekasih yang selama bertahun di khianati, tentang pasangan
muda yang terikat janji suci lengkap dengan batalyion yang beranggapan hanya
dialah satu-satunya, pastilah mereka sangat terluka oleh kata ‘setia’ (tidak
semua).
Dan untuk tentangku, tentang kecewaku
itu berasal dari diriku sendiri, yang ternyata kecewaku tidak ada apa-apanya
dibandingkan mereka, karena kamu bukan siapa-siapa bagiku, kamu bukan untukku,
kamu bukan milikku, maka kecewa ini pun bukan oleh sebab kamu yang ciptakan,
semua salahku, iya’ anggap saja semua salahku, karena tidak ingin rasanya menyalahkan
kamu yang telah memperkenalkanku dengan rasa yang sempat ku nikmati. Lagi pula
selama ini aku hanya bercinta dengan bayangmu, dengan anganmu, dengan harapmu,
karena ragamu kau sematkan di jiwa yang lain.
Selama ini aku hanya hidup dalam zona
nyamanku saja, merasa nyaman dengan apa yang telah ada, merasa nyaman dengan
kekonyolan yang ku sebut ‘menunggu’ tidak berani memulai dengan keluar dari
zona nyaman ku sendiri, padahal life begins at the end of your comfort zone.
Semua telah berakhir, tidak ada
alasan apapun, bukan pula karena alasan perbedaan, semua hanya tentang rasa,
rasa dan kebohongan berupa comfort zone, karena siapapun dan apapun profesi
seseorang, sungguh semua kembali pada pribadi masing-masing. Sekali lagi, biar
jelas dan tidak menyimpulkan kesalah pahaman “siapapun, apapun, dimanapun, semua kembali pada pribadi masing-masing”
karena dari mereka ada juga yang aku
idolakan, dan ku jadikan panutan dalam kepemimpinan J.
Senang bisa bertemu dan mengenal kamu
juga mereka.
-THE END-
BUKAN CERITA GUE!! Ga usah nebak-nebak :P. Ga usah terlalu serius juga bacanya. hihi
Okeh!!! Tulisan diatas adalah sambungan
dari cerita yang sebelumnya di post berjudul “ Si Pelaut, tut... tut... tut” hanya kali ini bahasanya sedikit
terdengar aneh yah... hihi.
Tunggu postingan selanjutnya dengan
tema yang berbeda yah, siap menerima kritik (kripik juga boleh, sangat
ditunggu) dan saran yang membangun :D
Lanjutkan braderrr
BalasHapusSemoga mjdi novelis hebatt