Beautiful Wrinkles
“Aku udah di station, buruan jemput yah”
“Okeh kita kesana”
Pesan singkat itupun berakhir.
*****
Kini, Anjar, Dhea dan Ricko sedang dalam perjalanan
menjemput Laras di station, seharusnya Laras telah bersama Anjar juga
sahabatnya yang lain disini, namun karena pada saat keberangkatan ada keperluan
yang tidak bisa Laras tinggalkan, maka terpaksa Laras harus menyusul sendiri
rombongannya.
Jam 17.00 Anjar dan kedua sahabatnya belum juga terlihat
menemui Laras, sangat terlihat wajah gelisah Laras yang dari tadi memandangi
arah gerbang station berharap mereka yang di tunggu telah datang, sesekali
mengalihkan pandangannya pada jam tangan coklat muda pemberian dari Anjar,
namun hingga sore hari begini ketiganya belum juga tiba.
“Aduh mereka kemana sih, sudah coba di hubungin juga kenapa
malah jadi gak aktif, Dhea juga sama gak aktif, Ricko apalagi dari kemarin susah
banget di hubungi,” gerutu Laras tanpa menghiraukan sekitarnya yang masih
terlihat banyak yang berlalu lalang.
“Lah kenapa aku gak kepikirang si Gentong yah, okeh
Yandi...” ide yang seharusnya terpikir sejak tadi, Yandi’ iya Yandi.
“Hallo Yan, ini aku Laras, tadi kamu tahu kan Anjar, Ricko
dan Dhea mau jemput aku ke station?”
“Duh duh duh, Sist, mereka udeh berangkat dari jam 3 kali
ah, aturan Anjar dan kamu udah berpelukan mesra ala Romeo dan Juliet yang udeh
di pisahkan 2 hari ini”
“Aku udah nunggu lama tapi mereka belum keliatan Yan, aku
jadi khawatir”
“Duh Ras mungkin mereka beli kado... uptssss,” terlihat
sedikit menyembunyikan sesuatu.
“Apa? Kado?” terdengar suara Laras di ujung terlphone sana
terdengar sedikit penasaran.
“Hah apa Ras?” Si Gentong malah balik bertanya.
“Kado apa Yan?”
“Salah dengar kali kamu Ras, ya udeh tungguin aja disana,
duduk yang manis yah Sist beri senyuman untuk setiap yang melintas. Hehe,”
Yandi berbicara dengan gaya bahasanya yang agak kemayu.
40 menit berlalu, sudah semakin petang dan mereka belum
juga tiba.
Kemana sih mereka lama sekali, kalau aku tahu daerah sini
mungkin tidak harus menunggu mereka, ah sial...
*****
sekian menit orang-orang yang sedari tadi berlalu lalang di
station perlahan mulai berkurang, mulai terasa sepi. Bagaimana tidak kini telah
pukul 18.30.
Oh God aku takut.
Dalam ketakutannya, ada seorang Nenek tua menghampiri Laras
yang tengah menunggu sendiri.
“Nak kau sedang menunggu siapa di sini?”
“Ini Nek, aku lagi nungguin pacar sama sahabat-sahabat aku,
tapi mereka belum juga datang,” dengan pandangan yang masih terlihat
mencari-cari sosok yang dia tunggu.
“Tak usah kau tunggu mereka, pergilah dari sini!”
“Jangan tunggu mereka? hehe, Nenek bercanda yah?” Laras
tersenyum seolah dia mendengar sesuatu yang lucu, kemudian melanjutkan
ucapannya, “Aku kesini buat ketemu mereka Nek, dan aku enggak tahu daerah sini,
mereka sedang dalam perjalanan menjemputku”.
“Terserah kau lah anak muda, aku sudah memperingatimu untuk
segera meninggalkan tempat ini”.
Kini muka si nenek terlihat begitu serius dengan tatapan
matanya yang kosong tanpa menatap Laras.
“Nek, kenapa Nenek menyuruhku pergi dan tak usah menunggu
mereka?”
“Pergi sekarang, atau kau tak akan pernah bisa pergi dari
sini selamanya!”
Tiba-tiba terdengar dering telphone yang ternyata dari
Yandi.
“Hallo yan... hallo hallo Di Yandi.., ko putus putus sih”
Entah karena jaringan atau apa telphone terputus tanpa sempat ada percakapan,
dan saat Laras mengalihkan pandangan dari handphonenya itu lantas bermaksud
untuk bertanya pada si Nenek, tapi sudah tidak di dapati lagi oleh pandangannya.
“Nenek yang tadi kemana Yah, cepet sekali hilangnya,
perasaanku jadi gak enak gini lagi”
Jarum jam terus berputar hingga tak terasa kini telah
menunjukan pukul 20.40 WIB.
“Oh Tuhan aku mau nangis aja. Takut banget di sini sendiri,
dan orang-orang yang berlalu lalang itu terlihat aneh semua, pandangannya
kosong, mukanya pucat semua, ah tidak, tidak mungkin, ini hanya halusinasi aku
aja, gak mungkin gak mungkin, semua normal-normal saja, mereka sama seperti ku
yang sedang menunggu kerabat untuk menjemputnya, iya mungkin seperti itu”
Dengan gaya bicaranya yang sedikit kekanak-kanakan Laras mencoba menenangkan
dirinya sendiri.
*****
Kemana mereka. Anjar, Ricko dan Dhea.
Seketika saja bulu punduk Laras tiba-tiba berdiri dan
hatinya seolah berteriak pergi, pergi, pergi dari tempat ini.
Laras mencoba kembali menghubungi Anjar, Ricko dan Dhea,
namun masih sama tanpa ada jawaban. Seiring rasa takutnya semakin memuncak,
sudah tak terbendung lagi rasa ingin segera pergi dari station yang tak seindah
tadi siang saat pertama kali iya tiba di sana, kini station itu terlihat di
hujani asap-asap yang menjadikan pandang sedikit kabur, di tambah dengan udara
yang sangat dingin lengkap dengan daun-daun yang terjatuh dari pohon-pohon
besar di tepian koridor itu.
“Ini mataku yang terlalu ngantuk atau memang tempat ini
berasap abu?” Terdengar Laras berprolog.
Di tengah kebimbangannya antara tetap menunggu atau pergi,
tiba-tiba seorang gadis yang terlihat sebaya dengannya menghampiri Laras yang
kala itu duduk di bangku persegi panjang berwarna hijau pekat.
“Permisi”
Laras terlihat seperti melamun sampai tak sadar ada yang
menyapanya.
“Permisi”
“Hah... iya Nek aku akan pergi sekarang,” jawab Laras tanpa
melirik siapa yang menyapanya.
“Nenek? Mba saya belum nenek-nenek”.
“Oh... euh... maaf-maaf mba, aku kira nenek yang tadi,
kenapa mba? ada yang bisa dibantu?”
“Saya baru pertama kali kesini dan mau kerumah Pa De, hanya
saja saya gak tahu alamat ini” dengan menyodorkan sebuah kertas pada Laras.
“Kampung Babakan... Lah saya gak tahu Mba, saya juga baru
pertama kali kesini, ini juga saya lagi nunggu teman-teman saya”
“Oh begitu, sama yah mba, saya juga menunggu Pa De dan Bu
De, tapi belum juga datang. Oh, yah, tadi mba bilang, nenek.....”
Belum juga Gadis yang kini diketahui namanya Vani beres
bicara Laras memotong pembicarannya.
“Iya tadi ada seorang nenek yang menghampiri ku, dia bilang
aku tidak usah menunggu mereka menjemputku di sini, dan aku harus pergi dari
sini sekarang, atau tidak sama sekali,” kini percakapan mereka terdengar tidak
terlalu formal karena telah sempat berkenalan.
“Hah serius? Tadi aku juga sama, seorang nenek
menghampiriku dan menyuruhku segera meninggalkan tempat ini sebelum jam 21.00
WIB”
“Kita harus pergi,” tangkas Laras seolah tak berfikir
panjang
“Lalu yang menjemput kita?”
“Aku gak tahu Van, tapi hati aku bilang kita harus segera
pergi dari sini”
“Iya aku juga merasa kita memang harus tinggalkan tempat
ini sekarang”
Kini Laras tak sendiri, ada Vani seorang gadis yang baru
saja iya kenal dan ternyata sama-sama mengalami hal serupa dengan dijumpai
nenek misterius tadi.
Mereka pun segera bergegas pergi, entah apa yang membuat
langkah mereka terlihat begitu cepat hingga di sepertiga jalan menuju pintu
gerbang keluar station mereka berlari begitu kencang sampai terengoh-engoh.
Jepppp... satu langkah kaki Laras dan Vani keluar dari
gerbang, seketika itu juga station yang tadinya masih di terangi lampu-lampu
walau tak begitu terang karena adanya asap yang entah datangnya dari mana,
tiba-tiba saja semua menjadi gelap tak terlihat apapun.
*****
Ricko :
“Apa mungkin Laras masih nungguin kita disini?”
Anjar : “ Iya lah kan dia gak tahu daerah sini
bro”
Dhea : “Serem nih station kalo malem,
kamu sih Jar ngejailin orang sampe segininya, kasian kan dari tadi siang sampe
jam 21.00 lewat Laras nungguin kita disini”
Anjar : “Namanya juga mau ngasih surprise Dhe”
Ricko : “Nyalain dulu tuh lilin”
Mereka pun menyalakan lilin di atas kue ulang tahun yang di
tujukan untuk Laras, yang mereka kira masih menunggu di station. Terus
melangkah maju memasuki gerbang station, pada saat itu dimata mereka terlihat
masih berlalu lalang pengunjung namun nampak tak begitu ramai.
Dhea : “Nah itu Laras...”
Anjar : “Gue bilang juga apa, Laras pasti setia
nunggu gue disini”
Mereka pun menghampiri Laras yang terlihat sedang duduk
menunggu.
Anjar : “Happy Birthday sayang, maaf yah
menunggu lama, jangan cemberut gitu dong ayo senyum”
Dhea : “Selamat Ulang tahun sahabatku,
maaf yah kita ngerjain kamu”
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Laras meniup lilinnya
dan seketika bersamaan dengan matinya lilin tersebut, suasana menjadi gelap,
lampu-lampu seketika mati. Station itu berubah menjadi gelap dan sepi hanya
suara burung gagak yang terdengar.
Dhea : “Hah ada apa ini, ya Tuhan apa
mati lampu, Ric kamu disini kan?”
Ricko : “Ako disini ko yang,” menggemgam erat
tangan Dhea.
Anjar : “Laras.. Ras, Sayang, kamu ko diem?
kamu disini kan?”
Hanya dalam hitungan detik saja, lampu menyala kembali dan
sudah tidak didapati Laras bersama mereka, kini station pun terasa begitu sepi
tak berpenghuni masih dengan suara burung gagak yang membuat bulu punduk mereka
berdiri.
Anjar : “Bro Laras gak ada, bro”
Dhea : “Anjar, Ricko, Laras dimana? Kita
harus cari Laras, apa Laras di culik burung gagak itu?”
Ricko : “Hus kamu jangan ngomong yang aneh-aneh
deh yang,” Ricko mencoba melerai Dhea yang mulai ngaco.
Anjar : “Gue harus cari Laras”
Ricko : “Gue ikut, yang kamu tunggu disini yah
jangan kemana-mana!”
Dhea : “Gak mau, aku ikut, takut...”
Mereka pun berjalan menelusuri semua lorong yang ada di
station itu.
Dhea : “Laras kamu dimana?”
Ricko : “Ras kamu dimana?”
Anjar : “Sayang kamu dimana?” Teriak Anjar
Mereka terus berjalan memperhatikan setiap sudut yang
terlihat, masih tak nampak Laras, kini jam menunjukan pukul 23.00, suasana
semakin sepi diiringi hembusan angin yang mengeluarkan suara-suara malam
dan membuat suasana semakin mencekam.
Dhea : “Anjar, Ricko aku takut...”
Ricko : “Tenang Dhe semua akan baik-baik saja”
“Anjar................” Terdengar suara yang memanggil nama
Anjar.
Anjar : “Laras? kamu dimana?”
Mereka berlari kearah sumber suara yang terdengar di dalam
suatu ruangan.
*****
Gudang! Kini mereka terhenti di depan pintu yang
bertuliskan Gudang.
Dhea : “Apa mungkin Laras didalam?”
Anjar : “Entahlah tapi suaranya berasal dari
sini, gue masuk, kalian tunggu saja disini”
Ricko : “Okeh, kalau ada apa-apa teriak saja
Jar, kita nunggu lo disini!”
Anjar pun masuk ke dalam Gudang dengan hati yang berdebar
dan bulu punduk yang berdiri.
Setibanya di dalam. Keadaan, begitu sumpek, gelap dan
sedikit bau, namun demi menemukan Laras ia terus mencari kekasihnya itu.
Anjar : “Sayang kamu dimana?”
Tak ada jawaban dari panggilan Anjar.
Anjar : “Yang sayang ... Laras kamu dimana?”
“Bantu aku... aku takut, sakit.... keluarkan aku.....”
Terdengar suara rintihan ketika nama Laras disebut.
Anjar : “Sayang ....”
Setiap kali kata sayang yang keluar dari mulut Anjar tak
pernah terdengar suara yang membalasnya, namun sebaliknya jika nama Laras
disebut maka selalu ada balasan berupa rintihan minta tolong.
Anjar : “Larassss aku disini Ras, kamu dimana?”
Anjar terus merasakan dimana sumber suara itu berasal,
semakin Anjar mendekati sebuah lukisan yang tertempel di dinding tua dalam
gudang itu, semakin jelas suara Laras terdengar minta tolong.
Anjar : “Ras kamu dimana jangan main-main Ras
keluar ah, gak lucu”
“Aku disini bantu, aku keluarkan aku”
Rasa penasaran akan lukisan yang tertempel di dinding itu
semakin kuat seiring terdengar begitu jelas jika suara Laras yang meminta
tolong berasal di balik lukisan itu.
Akhirnya Anjar pun melepaskan perekat yang menempelkan
lukisan itu di dinding, dan benar saja di balik lukisan itu terdapat sebuah
kotak menyerupai pintu.
Anjar : “Pintu apa ini?”
Anjar mengetuk-ngetuk pintu itu dan..
“Buka ...... tolong aku.. keluarkan aku dari sini...”
Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, perlahan Anjar
membuka pintu yang menyerupai pintu rahasia itu.
Di doronglah sekuat tenaga.
*****
Seolah ingin berlari tapi tak bisa, ingin teriak tapi tak
mampu membuka mulut setelah apa yang ada di hadapannya, tulang belulang dan
tengkorak manusia berserakan disini.
“aaa aaaaa tidak... Ricko... Dhea.....” Teriak Anjar yang
masih terpaku melihat semua itu.
“Tolong aku keluarkan aku dari sini...”
“Siapa kamu? Dimana Larasku? jangan ganggu gue! menjauh
dari gue!”
“Tolong aku keluarkan aku dari sini....”
Tiba-tiba di tengah ketegangan menyalalah sebuah layar
proyektor yang menampilkan pembunuhan sadis yang terjadi di station ini.
Dulunya station ini adalah station yang ramai akan
pengunjung, station yang berjalan normal seperti layaknya station yang lain,
namun semua menjadi beda ketika terjadi sebuah pembunuhan sadis yang di lakukan
oleh penumpang perempuan yang membunuh masinis dan seluruh penumpang
lainnya. Pembunuh itu berparas cantik namun dengan sadis seperti tanpa otak
membantai semua orang yang ada di satu kereka pada waktu itu, ia menghabisi
seluruh yang terlihat oleh pandangannya.
Terlihat disana seorang penumpang wanita yang mencoba
melarikan diri dan berhasil keluar dari kereta, perempuan itu berlari
menghindari si pembunuuh berdarah dingin tersebut, terus berlari dan berlari
hingga tiba disebuah ruang lalu masuk, bersembunyi di dalamnnya.
“Dimana kamu? jangan sembunyi! aku tahu kau ada disini,
keluar kataku” Bentak si pembunuh berdarah dingin tersebut.
Terlihat wanita malang tadi menahan tangisnya di dalam
sebuah lemari.
“Ha hah haha.. aku tahu manis, kau ada di lemari ini”
Dengan berlumuran darah di tubunya, si pembunuh berdarah
dingin dengan tega mengunci pintu lemari dari luar yang diketahui di dalamnya
ada wanita malang tadi.
Tertawa puas, si pembunuh bardarah dingin pergi berlari
bagai orang gila, tertawa dan menyanyi sendiri, semua telah mati, telah
selesai, dan semua seolah membuatnya bahagia.
“Hahahaha hahah hahaha, semua telah mati, hihi hihi
tenanglah disana para pendosa, damailah kalian dengan pemerkosa jahanam,
hahahahah hahahaha”
Perempuan gila ini berlari dan menari seperti telah
mendapatkan kepuasan, lalu, dia akhirnya menabrakan diri pada kereka yang
melintas, dan meninggal ketika itu juga dengan memberi tawa terakhirnya “Hahaha
aku berhasil”.
Telah lama sejak tahun 1961 station ini telah di tutup dan
tidak di fungsikan lagi.
Di ujung video berdurasi 3 menit itu menunjukan ruangan
dimana wanita malang bersembunyi itu adalah “Gudang”, dan kini Anjar ada
didalamnya.
Rasa takut menyelimuti Anjar.
“Apa yang terjadi? Station telah di tutup? Bagaimana
mungkin” dia bertanya pada dirinya sendiri seolah tidak yakin dengan dokumenter
yang membuatnya ngeri sendiri.
“Laras kamu dimana Ras?” seketika tubuh Anjar runtuh lemas.
Dari luar terdengar Ricko yang memanggil.
“Anjar loe dimana buruan!”
00.00 tepat
Lampu-lampu penerang itu kembali mati membuat semua
pandangan tidak terlihat.
Ricko : “Jangan lepaskan genggamanmu Dhe”
Dhea : “Aku takut Rick”
Ricko : “Kita harus masuk Dhe, Anjar di dalam,
tidak mungkin kita meninggalkannya disini”
Mereka masuk perlahan, menggunakan center yang terpasang di
handphone sebagai penerang.
“Anjar loe dimana”
“Gue disini, bantu gue Rick..”
Terlihat Anjar yang begitu lemah membungkuk tengah
mencoba membangunkan diri.
Ricko : “Jar apa yang terjadi?”
Anjara : “Kita harus pergi dari sini, sekarang”
Dhea : “Lalu Laras?”
Anjar : “Ga, Laras gak ada disini Dhe”
Ricko : “Okeh kita pergi dari sini!”
Dan ketika mereka hendak melangkah pergi, pintu tiba-tiba
saja tertutup dengan sendirinya.
Blugggg....
“Bantu aku, keluarkan aku....”
Dhea : “Suara siapa itu? Laras?”
Anjar : “Tidak, aku yakin bukan Laras, kita
harus pergi”
Ricko : “Jar sebenarnya apa yang terjadi tadi?”
“Aaaaaa tolong bantu, aku tidak bisa bernafas...
tolong.....”
Dhea : “Ayo kita lari saja”
Namun sepertinya ada yang di ingat oleh Anjar... “Video
tadi”
Suara teriak minta tolong terus terdengar.
“Gue harus keluarkan dia,” bisik Anjar.
Ricko : “Hah? Keluarkan? Siapa Jar?”
Anjar : “Loe lihat lemari itu?” menunjuk pada sebuah
lemari tua yang di penuhi sarang laba-laba, lalu meneruskan ucapannya, “Ada
seorang gadis disana, gue harus keluarkan”
Dhea : “Tadi loe yang bilang kita harus
keluar sekarang juga, ayoo kita pergi saja, jangan ambil risiko Jar, kita harus
keluar”
Anjar : “Pintunya terkunci Dhe dan satu-satunya
cara agar kita bisa keluar dari sini adalah dengan mengeluarkan gadis itu”
Ricko : “Gadis?”
*****
Dengan sedikit perdebatan yang terjadi diantara Ricko,
Anjar dan Dhea, akhirnya Mereka mendekati lemari tua itu dengan bermakud
membukanya.
Dhea : “Ya Tuhan jangan biarkan kami mati
disini” begitulah Dhea, pikirannya selalu menerawang membayangkan yang
tidak-tidak, namun tidak bisa dipungkiri kali ini suasana benar-benar
menegangkan ketiganya.
Bau busuk menyengat ketika pintu lemari mulai terbuka,
tidak bisa dihindarkan.
*****
Mayat? Seorang nenek tua yang mengenakan baju katun
berwarna ungu dengan rambut yang disasak rapi.
*****
“Dhea, Ricko.... Anjar ... kalian dimana?” terdengar suara
Laras di ikuti suara mobil polisi dari luar station.
*****
Singkat cerita mereka bertemu.
Laras :” Sayang apa yang terjadi?” Laras
memeluk Anjar
Anjar : “Kamu enggak papa Ras?” Anjar malah balik
bertanya mengkhawatirkan Laras.
Laras : “Aku enggak papa ko. Maafin aku karena aku gak nunggu sampe kalian datang. Dhea, Ricko, kalian ga papa?”
Dhea : “Kita baik-baik aja ko” Laras
memeluk Dhea di susul dengan Ricko dan Anjar.
*****
Usut punya usut Station itu memang sudah tidak
berfungsi sejak puluhan tahun yang lalu, dan kini di biarkan begitu saja
tak terawat seperti bangunan kosong yang penuh mistery dan kisah mistik.
Dan terkait tulang belulang yang di temukan di balik
lukisan klasik tempo lalu telah diserahkan kepada pihak yang berwajib,
begitupun dengan mayat seorang nenek yang kini diketahui bernama Laras, masih
utuh hanya mengeluarkan bau bangke yang menyengat.
*****
“Aku telah memasuki Station yang salah yah? maafkan aku,”
lirih Laras saat berkumpul dengan semua temannya termasuk si Gentong Yandi.
“Anggap saja itu petualangan kita yang pertama,” hibur
Anjar dengan mengelus manja kepala Laras.
“Oh yah, jenazah nenek itu... Itu adalah nenek tua yang
tempo lalu menyuruhku pergi tanpa menunggu kalian. Memperingatiku pergi dari
station itu”
“Dia bukan seorang nenek. Dia gadis manis nan cantik yang
malang”
_THE END_
Komentar
Posting Komentar